Oleh Irfan Hidayat / 05042010
Putriku Mujahidah Kecilku, tumbuhlah bersama waktu
Abi berusaha keras untuk memberikan cinta kepadamu. Bersabarlah dulu
Berhentilah memanggil nama Umi yang melahirkanmu.
Umimu telah pergi jauh meninggalkan kita berdua
Dia hilang ditelan peradaban kapitalis modern belantara Jakarta Mungkin malam ini dia sedang ada di cafe mahal bersama teman-teman pria teman kantornya atau kawan kuliah S2 nya, bersama kepul asap rokoknya dan tawa cekikikannya meski malam tlah larut seperti sekarang ini
Putriku Mujahidah Kecilku, kita berdua memang hidup jauh dari kemewahan
Tapi rumah mungil di tepian kota ini milik kita
Letaknya hanya duapuluh meter dari masjid, rumah kita yang kedua dimana aku selalu mengajakmu menyapu dan mengepel lantainya bila tampak kotor setiap kita kesana untuk berjamaah
Putriku Mujahidah Kecilku, bila aku sering mengajakmu mengaji Al Quran maafkan aku
Sebab aku Abimu selalu ingin melukismu dengan indahnya balasan bagi orang bertakwa,beriman dan bersabar
Sebab aku Abimu selalu ingin menasehatimu agar selalu berbakti kepada orang tua sekalipun dia ingkar Allah
Sebab aku Abimu selalu ingin membisikkan dalam jiwamu agar selalu membela Islam agama kita walau orang-orang ingkar dan sesat itu benci pada kita
Putriku Mujahidah kecilku, jadilah insan dalam cahaya cinta Allah di dunia dan akhirat
Aku Abimu hanya menuntunmu hingga ujung usiaku saja. Selanjutnya semoga kelak kau berjodoh dengan Mujahid sejati dan mengisi keluargamu dengan cinta Allah, sakinah mawaddah rahmah..
